Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sejarah

Ādityawarman, Legitimasi Kekuasaan, dan Misteri Tentangnya

Gambar
Prasasti-prasasti tinggalan Adityawarman di Pagaruyung Sosok raja Melayu yang berkuasa sekitar 700 tahun yang lalu ini, telah meninggalkan legasi sekitar 13 prasasti dan membangkitkan diskusi hangat di kalangan pemerhati sejarah Melayu. Berbeda dengan penguasa negara pendahulunya, Sriwijaya, yang mengancam para Datu di bawahnya, Ādityawarman tidak pernah mengancam penduduk dan penguasa bawahannya. Paling tidak itulah yang dijumpai pada enam prasasti yang dikeluarkannya. Akan tetapi, sebaliknya, prasasti-prasasti tersebut menuliskan pujian-pujian terhadap diri Ādityawarman (rājapūja) sendiri. Bahkan, ia menyetarakan dirinya dengan para Dewa, seperti dengan Dewa Indra, Adibuddha, dan śrīlokeśwara. Hal semacam itu ditulis oleh Ādityawarman sebagai upaya melegitimasi atau mengesahkan kekuasaannya di kalangan penduduk Melayu. Ia berupaya membangun karisma sebagai raja yang maha berani, maha adil, maha melindungi, maha pandai, maha kuat, dan maha bijak sebagaimana mitos-mitos para dewa ters...

Sejarah Siulak Dari Mendapo Semurup menjadi Mendapo Siulak, Berikut Daftar Nama Kepala Mendapo

Gambar
Potret pejabat Kepala Mendapo di Kerinci tahun 1935 Siulak merupakan pusat wilayah adat Tanah Sekudung yang dibentuk pada zaman Sultan Ahmad Zainuddin dari Jambi sekitar abad ke-18 M. Wilayah ini berada di kawasan baratlaut Lembah Kerinci yang terdiri dari beberapa dusun dan koto. Dusun yang terletak di wilayah Tanah Sekudung terdiri dari Siulak Gedang, Siulak Panjang, Siulak Mukai, Siulak Kecik, Siulak Dreh, Dusun Baru, Dusun Tinggi, Koto Beringin, Koto Tengah, Koto Aro, Koto Rendah, Koto Kapeh, Koto Lebuh Tinggi, Sungai Pegeh, Sungai Lebuh, Napal Batakuk, Lubuk Nagodang, Sungai Batu Gantih, Sungai Betung, Sungai Renah, Tanjung Genting, Sungai Gelampeh, dan Sungai Sirih. Secara adat wilayah ini dipimpin oleh Depati Tigo Luhah, Mangku Berenam, Manti Salapan.  Depati yang Tigo Luhah Tanah Sekudung yaitu: Luhah Depati Intan Luhah Depati Mangku Bumi Luhah Depati Rajo Simpan Bumi Mangku yang berenam: Mangku Rajo Sirajo Tuntut Gedang Sirajo Tahil Temenggung Titin Rajo Jindah Nyato Dipat...

Padi dalam Kehidupan Orang Kerinci: Sejarah, Mitos, Ritual, dan Nilai Budaya

Gambar
Ilustrasi menuai padi Buku ini membahas tentang kehidupan orang Kerinci terkait dengan pertanian padi. Nenek moyang orang Kerinci telah mengenal padi sejak awal mula penghijrahan mereka sekitar 3500 tahun yang lalu. Padi sebagai tanaman pangan diketahui pula juga sebagai tanaman ritual. Temuan arkeologi menunjukkan adanya serbuk sari padi-padian dalam situs tempayan kubur di Kerinci. Pada abad ke-14, pencurian padi dikenakan denda yang cukup banyak yaitu setahil sepaha emas atau sekitar 38 juta rupiah menurut hitungan sekarang. Di masa Kesultanan,Jambi juga menetapkan pajak beras bagi penguasa yang mengakui kekuasaan mereka yakni sekitar 100 gantang beras tiap tahun. Setelah masuknya Belanda, mereka meningkatkan produksi padi dengan memperluas lahan persawahan di Lembah Kerinci. Baca juga:  Padi Sebesar Buah Kelapa: Mitos, Legenda atau Fakta? Sebagai tanaman suci, padi sangat lekat dengan mitos dan berbagai ritual yang dilakukan terhadapnya. Ada berbagai ritual yang dilakukan oleh ...

Tanah, Kuasa, dan Niaga: Dinamika Relasi antara Orang Kerinci dan Kerajaan-Kerajaan Islam di Sekitarnya Abad Ke-VI dan XIX Masehi

Gambar
(Ilustrasi) Buku ini membahas tentang kehidupan orang Kerinci antara 400 hingga 200 tahun yang lalu. Terutama, hubungan mereka dengan dua kerajaan besar yang mengapit wilayahnya, yaitu Kesultanan Jambi dan Inderapura. Hubungan yang dilandasi sumpah setia ini mengalami pasang surut sepanjang abad. Ada kalanya orang Kerinci lebih intim dengan Jambi, adakalanya pula lebih intim dengan Inderapura. Meskipun demikian, para Depati sebagai penguasa wilayah-wilayah adat di sepanjang Lembah Kerinci lebih condong menghadapkan berbagai persoalannya ke Kesultanan Jambi. Misalnya, masalah tanah ulayat, konflik antar wilayah adat, dan perkara pidana yang dapat diselesaikan oleh mereka. Baca Juga:  Tanah Ulayat di Kerinci: Praktek Jual Beli Tanah Di Luar Orang Kerinci Seharusnya Dilarang! Buku ini dilandaskan pada sumber-sumber lokal seperti naskah piagam, serta naskah dan prasasti Incung surat. Di samping itu pula menggunakan referensi dari sejarawan yang lalu seperti Barbara Watson Andaya dan El...

Sultan Ahmad Nazarudin, Kisah Raja Tanpa Alas Kaki dari Jambi

Gambar
Foto 1. Sultan Ahmad Nazarudin dari Jambi Banyak yang tak menduga bahwa sosok sepuh dalam potret ini adalah seorang raja (foto 1). Pasalnya, ia tak menggunakan kasut dan atribut mewah lainnya layaknya raja-raja besar di seantero Nusantara. Apatah lagi, punya keraton dan istana yang dikelilingi benteng kokoh atau mahkota berlapis emas bertatah intan mustika. Ahmad Nazaruddin diangkat pada pertengahan abad ke-19 sebagai Sultan Jambi menggantikan Sultan Thaha yang dimakzulkan Belanda. Potret dirinya ini menjadi gambaran bagaimana kondisi Raja - orang nomer satu di Jambi-- dan para bangsawan Jambi kala itu. Laporan Belanda, banyak menyebutkan bahwa raja dan pangeran Jambi hidup dalam kondisi "miskin". Mereka hidup dengan kondisi ekonomi minimal dari upeti di wilayah pegangan masing-masing. Baca juga:  Ketika Raja Minangkabau dan Pangeran Jambi Minta Bantuan Para Penguasa Kerinci Keraton yang mereka punya hanya rumah panggung. Ukurannya, sedikit lebih besar dari rumah rakyat bias...

Asal-Usul Penduduk dan Struktur Pemerintahan Adat di Dusun Siulak Panjang, wilayah Adat Tanah Sekudung Kerinci

Gambar
Dusun Siulak Panjang Dusun Siulak Panjang adalah perkampungan yang terletak di hulu Sungai Batangmerao, Lembah Kerinci. Tepatnya berada di sisi barat aliran Batangmerao. Di sebelah utara dusun ini mengalir aliran Sungai Kelikir yang bermuara ke Batangmerao sebagai batas sebelah mudik. Sementara itu, sebelah hilirnya berbatasan dengan dusun Siulak Gedang. Sekarang ini dusun Siulak Panjang telah mekar menjadi beberapa desa yaitu Desa Siulak Panjang, Desa Koto Beringin, Desa Dusun Baru, dan Desa Pasar Senin. Semuanya berada di wilayah administratif Kecamatan Siulak, Kab. Kerinci. Perkembangan Permukiman dan Penduduk Awalnya dusun Siulak Panjang dinamakan sebagai Pulau Panjang karena berada di sepanjang Sungai Batang Merao. Setelah itu, Pulau Panjang mulai didiami oleh masyarakat untuk berladang sehingga berubahlah naman Pulau Panjang menjadi Pelak Panjang. Selanjutnya, kelompok-kelompok yang berladang di Pelak Panjang mendirikan permukiman yang dinamakan sebagai Siulak Panjang. Pada mulan...

Ketika Sultan Thaha Syaifuddin dari Jambi Mengirim Petisi Ke Turki Usmani

Gambar
Latar Belakang Sebelum Sultan Thaha diangkat menjadi Raja Jambi, Sultan sebelumnya termasuk ayah Sultan Thaha sendiri yang bernama Sultan Muhammad Fachruddin atau Sultan Kramat adalah sekutu dari pemerintah Kolonial Belanda. Seperti di dalam tulisan Locher-Scholten disebutkan bahwa Sultan Fachruddin sendiri pernah berperang melawan pasukan Belanda di perbatasan Jambi dengan wilayah Palembang. Akan tetapi, ia kalah dalam pertempuran sehingga ia harus menandatangani kontrak perdamaian dan kontrak politik dengan Belanda. Kontrak-kontrak tersebut sebenarnya menjadi negara Jambi bagian dari Hindia-Belanda, Sultan Jambi tidak punya hak lagi untuk menjalin persahabatan dengan megara lain tanpa persetujuan pihak Belanda. Begitu pula saat Sultan baru dilantik, wajib dengan persetujuan Belanda.  Paman Sultan Thaha yang menjabat setelah ayahnya mangkat juga menandatangani kontrak politik dengan Belanda saat ia menjabat. Saat itu, status Thaha naik dari pangeran biasa menjadi perdana menteri a...

Muhammad Awal, Bupati Kerinci Ke-5 yang Dikenang dengan Aura "Kesaktian"-nya

Gambar
Pak Awal dan Masyarakat Kerinci  Latar Belakang Keluarga Beliau terlahir dengan nama Awaluddin sekitar tahun 1937 di Dusun Baru Siulak. Ayahnya bernama Mat Tilik yang setelah berhaji mengganti nama menjadi Haji Umar. Sang ayah berasal dari Luhah Demong-Rio Bayan Dusun Baru Siulak. Sedangkan  ibunya bernama Gedung Perak, berasal dari Luhah Depati Intan Dusun Siulak Mukai. Baca juga:   Dari manakah Asal Usul Penduduk Dusun Siulak Mukai? Menelusuri Sejarah dan Struktur Pemerintah Adat Masyarakat Siulak Mukai Tak seperti namanya, Awaludin bukanlah anak pertama melainkan anak paling bungsu. Beliau memiliki 5 orang saudara, dua perempuan dan tiga laki-laki. Kakak laki-lakinya bernama Saidi Rajo, Sabri Umar dan Zainal Abidin. Sedangkan kakak perempuannya bernama Kunci Iman dan Hadiah. Ayah Awaludin, Haji Umar, adalah kalangan aristokrat semasa pemerintahan Hindia-Belanda. Beliau pernah menjabat sebagai Kepala Mendapo Semurup sekitar tahun 1930-an. Jabatan pegawai untuk golongan ...

Ketika Raja Minangkabau dan Pangeran Jambi Minta Bantuan Para Penguasa Kerinci

Gambar
"....Karena kami suruh berkelahi dengan orang Palembang sekarang mau lah turun Dipati Ampat lengkap dengan senjatanya. Jikalau tidak turun tanggallah setiya orang tua-tua Dipati Ampat ke bawah duli Yang Dipatuwan..." --Yang Dipatuan Paduka Seri Sultan Ahmad Syah-- Bagian Salinan Surat yang dikirim oleh Raja Alam Minangkabau kepada Penguasa Kerinci  Bicara tentang sejarah tidak melulu tentang silsilah nenekmoyang/leluhur. Akan tetapi, tentang peristiwa penting yang pernah terjadi di masa lalu dan peristiwa tersebut bisa dibuktikan dari tinggalan tertulis seperti prasasti,inskripsi dan naskah-naskah kuno.  Misalnya, peristiwa Mangalap Siddhayatra atau perjalanan suci yang dilakukan oleh Dapunta Hyang, raja Sriwijaya, dari Minanga ke Upang bersama 20000 orang tentara ditambah 1312 orang yang berjalan kaki. Sejarawan akan lebih fokus membahas peristiwa mencari Siddhayatra dari pada membahas tentang dari mana dan siapa orang tua dari Dapunta Hyang tersebut.  Kasus lain misalny...