Postingan

Menampilkan postingan dengan label Rawang

Kisah Depati yang Memancing Amarah Pangeran Jambi

Gambar
Kisah ini diceritakan di dalam prasasti tanduk simpanan Depati Sungai Laga, juga dalam salinannya pada kertas beraksara Arab Melayu. Alkisah tatkala Pangeran dari Jambi mengunjungi Kerinci, kemudian berhenti di pesanggrahannya di Tanjung Kerbau Jatuh, Sanggaran Agung. Kabar ini segera didengar oleh dua orang Depati yaitu Depati Mudo dan Depati Sungai Lago dari Tanah Rawang. Ilustrasi (Sumber: https://andezzsyailendra.wordpress.com) Dua depati ini segera menghadap sang pangeran dengan niat untuk meminta gelar bagi dua orang kemenakannya. Sesampainya di Tanjung Kerbau Jatuh, Depati Muda bercerita kepada pangeran meski sudah dilarang oleh rekannya yang bergelar Depati Sungai Laga. Depati Muda memberitakan bahwa ada seseorang yang mampu menanyai orang mati di dalam kubur, namanya Datuk Caya Dipati.  Baca juga: Empat Prasasti Tanduk dari Mendapo Rawang Berhasil Dibaca Ulang, Ini Isinya! Seolah tak percaya, Pangeran Jambi kemudian  meminta orang tersebut dihadapkan kepadanya. Maka, ...

Empat Prasasti Tanduk dari Mendapo Rawang Berhasil Dibaca Ulang, Ini Isinya!

Gambar
Wilayah Kerinci kaya akan tinggalan naskah-naskah kuno. Salah satunya adalah naskah tanduk beraksara Incung. Sebagian peneliti menyebutkan tulisan di atas tanduk ini masuk dalam kategori naskah seperti yang digunakan oleh L.C. Westenenk dan Voorhoeve. Peneliti lain mengkategorikan sebagai prasasti karena ditulis di atas media yang keras seperti yang diungkapkan oleh Wahyu R. Andhifani ahli epigrafi dari Balai Arkeologi Sumatra Selatan. Prasasti Tanduk Depati Sungai Lago dari Mendapo Rawang Baca juga:  Aksara Surat Incung, Riwayat dan Problematikanya Di antara prasasti tanduk beraksara Incung yang ditemukan di Kerinci adalah pusaka yang disimpan oleh Depati Sungai Lago Tuo dusun Koto Beringin, Mendapo Rawang. Sebelumnya, empat prasasti tanduk ini telah dialihaksarakan terlebih dahulu oleh Voorhoeve di tahun 1941. Namun karena masih terdapat kekurangan dan sulit dipahami oleh pembaca awam. Prasasti ini kembali dibaca oleh Sunliensyar pada tahun 2020. Berbeda dengan Voorhoeve, penelit...