Postingan

Menampilkan postingan dengan label Tokoh

Muhammad Awal, Bupati Kerinci Ke-5 yang Dikenang dengan Aura "Kesaktian"-nya

Gambar
Pak Awal dan Masyarakat Kerinci  Latar Belakang Keluarga Beliau terlahir dengan nama Awaluddin sekitar tahun 1937 di Dusun Baru Siulak. Ayahnya bernama Mat Tilik yang setelah berhaji mengganti nama menjadi Haji Umar. Sang ayah berasal dari Luhah Demong-Rio Bayan Dusun Baru Siulak. Sedangkan  ibunya bernama Gedung Perak, berasal dari Luhah Depati Intan Dusun Siulak Mukai. Baca juga:   Dari manakah Asal Usul Penduduk Dusun Siulak Mukai? Menelusuri Sejarah dan Struktur Pemerintah Adat Masyarakat Siulak Mukai Tak seperti namanya, Awaludin bukanlah anak pertama melainkan anak paling bungsu. Beliau memiliki 5 orang saudara, dua perempuan dan tiga laki-laki. Kakak laki-lakinya bernama Saidi Rajo, Sabri Umar dan Zainal Abidin. Sedangkan kakak perempuannya bernama Kunci Iman dan Hadiah. Ayah Awaludin, Haji Umar, adalah kalangan aristokrat semasa pemerintahan Hindia-Belanda. Beliau pernah menjabat sebagai Kepala Mendapo Semurup sekitar tahun 1930-an. Jabatan pegawai untuk golongan ...

K.H. Muhammad Burkan Saleh: Ulama Kerinci yang Masyhur dan Aktif Menulis

Gambar
Sejak abad ke-19 M, gairah kehidupan religius di kalangan orang Kerinci sebenarnya semakin meningkat. Apalagi di abad yang sama, kaum ulama sedang gencar-gencarnya mengobarkan  semangat untuk menentang kolonialisme Belanda yang telah menganggu banyak negara merdeka, termasuk Jambi. Beberapa bukti naskah  turut memperkuat dugaan itu. Pada pertengahan dan akhir abad ke-19, orang-orang Kerinci yang berangkat ke Mekkah semakin meningkat. Mereka tidak sekedar berhaji, tetapi juga mempelajari ilmu agama. Kontak dengan jamaah haji dari wilayah lain terutama dari Aceh telah mengobarkan semangat persatuan untuk menentang penjajahan Belanda di wilayah mereka.  Sekembalinya dari berhaji, mereka digelari sebagai ulama oleh orang-orang di daerah asalnya. Hal ini karena mereka memiliki pengetahuan agama yang lebih dari masyarakat awam. Sayangnya, riwayat jamaah haji Kerinci pada abad tersebut tidak banyak diketahui. Kitab-kitab hasil tulisan mereka belum banyak ditemukan dan belum dise...

Dari Sosok Ibu Sederhana Ini, Lahir Orang Nomor Satu di Kerinci

Gambar
Hj. Rohana, ibu Bupati Kerinci saat ini  Keturunan Ulama Tarikat Beliau dilahirkan dengan nama Rohana sekitar tahun 1938-39 di Dusun Koto Beringin, Siulak, Kerinci. Ayahnya bernama H. Ja'far Saleh dari Jurai Demong Dusun Koto Rendah dan ibunya bernama Jangkiriyah dari Luhah Jagung Marajo Indah Sungai Langit Dipati Marajo, dusun Koto Beringin. Baca juga:  Kenduri Sko Empat Jurai Dusun Koto Rendah, Siulak Kabupaten Kerinci Haji Ja'far Saleh, ayahnya, sebenarnya adalah seorang ulama. Lebih tepatnya seorang ulama Tarekat cabang Sammaniyah. Beliau punya banyak murid di wilayah Siulak. Ayah dari Haji Ja'far Saleh, atau kakek dari Rohana, juga seorang ulama Tarikat Sammaniyah yang masyhur di Siulak dan Semurup. Haji Ja'far Saleh beserta saudara laki-lakinya tahun 1950-an Nama asli sang kakek adalah Serangkak, tetapi setelah berhaji ke Mekkah nama beliau diganti menjadi Haji Sultan Saleh. Sang kakek mengaji agama di beberapa tempat terutama di Hiang dan di Semurup. Di Semurup b...

Mengenal SINAR BUDI: Dari Generasi ke Generasi Mempopulerkan Tale Kerinci

Gambar
Beberapa tampilan album Sinar Budi (ilustrasi) Sejarah Ringkas Sinar Budi pada awalnya adalah nama badan usaha yang didirikan oleh pebisnis kenamaan di Siulak yakni Haji Idris. Beliau mulanya merintis usaha perniagaan beras dan penggilingan padi. Namun karena bisnisnya semakin maju, beliau kemudian mengembangkan usahanya menjadi sebuah koorporasi yang diberi nama Sinar Budi. Koorporasi ini memiliki beberapa anak usaha seperti Toko Kelontong, Toko Obat-Obatan, Studio Foto hingga Jasa Angkutan Umum. Lokasi usaha tersebut berada di Pasar Siulak Gedang, Kemendapoan Siulak, Kerinci. Pada tahun 1970-an, saat itu di Kerinci sedang populer dan berkembang grup-grup orkes Melayu sebagai salah satu sarana hiburan masyarakat di pedesaan. Tampaknya pendiri Sinar Budi, melihat hal tersebut sebagai salah satu peluang bisnis di bidang jasa hiburan. Dan kebetulan pula, beberapa anak Haji Idris memiliki bakat dalam bermusik dan bernyanyi. Dengan dimodali oleh sang ayah, anak-anak Haji Idris mendirikan O...

Mengenang Petrus Voorhoeve, Penemu Awal Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah dan Penyusun Tambo Kerintji

Gambar
Dr. Petrus Voorhoeve di usia senjanya masih semangat meneliti naskah-naskah Nusantara Sekelumit Latar Belakangnya Petrus Voorhoeve lahir di sebuah kota kecil di Belanda, Vlissingen, pada 22 Desember 1899. Ayahnya adalah seorang pendeta terkemuka Gereja Protestan di wilayah itu. Sayangnya, tidak banyak catatan mengenai Piet atau Pieter --nama panggilannya-- ketika ia masih kecil. Setelah menamatkan pendidikan menengah atas di sekolah bahasa, pada 1918 Voorhoeve melanjutkan studinya di Universitas Leiden (University of Leiden). Ia mulanya mengambil program studi Teologi namun kemudian pindah haluan ke program studi  Bahasa Indonesia. Di Leiden, Voorhoeve menempuh pendidikan dengan sangat mulus. Ia menamatkan studi sarjananya di tahun 1921. Kemudian ia melanjutkan ke program magister dengan fokus penelitiannya pada orang Aceh dan Linguistik Umum dan tamat pada 1925. Ia meneruskan pendidikannya untuk program Ph.D dengan fokus studi Cerita Rakyat Batak dan menamatkannya pada 1927. Selam...

Biografi Singkat Haji Soetan Imam: Kepala Mendapo Semurup yang Pertama

Gambar
Potret yang diduga kuat sebagai Haji Soetan Imam dan istrinya Kudi serta anak lelaki beliau yang bernama Mat Jaris. Judul aslinya Kepala Mendapo Semurup, dipotret sekitar tahun 1915 oleh Belanda. Sumber: Tropenmuseum Pendahuluan Tahun 1903 merupakan tahun yang amat berat bagi rakyat Kerinci. Pasalnya, mereka mengalami kekalahan telak akibat menentang dan melawan Kolonial Belanda. Belanda saat itu ingin menguasai wilayah Kerinci yang masih merdeka. Di Pulau Tengah, Belanda membumihanguskan kampung itu, banyak anak-anak, wanita dan orangtua yang tewas karena bersembunyi di bawah kolong rumah. Kekalahan demi kekalahan harus ditelan oleh orang Kerinci. Beberapa kampung dengan mudah ditaklukkan oleh Belanda tanpa perlawanan berarti. Setelah seluruh kampung ditaklukan, Belanda menjadikan Kerinci sebagai salah satu afdeelingnya yang dibagi dalam tiga distrik dan 12 Mendapo. Tiga distrik itu adalah distrik Korintji Oeloe, distrik Korintji Tengah dan distrik Korintji Hilir. ...