Postingan

Menampilkan postingan dengan label Naskah Kuno

Pantun di dalam Naskah Kuno Surat Incung

Gambar
Apa itu Pantun? Pantun merupakan karya sastra atau puisi lama dalam budaya Melayu. Pantun dicirikan ditulis dalam empat baris, tiap baris terdiri dari 8 hingga 12 suku kata, dan bersajak atau berima a-b-a-b. Misalnya pada pantun berikut: Kalau ada sumur di ladang Boleh kita menumpang mandi Kalau ada umur yang panjang  Boleh kita bertemu lagi Pantun di atas memiliki pola rima yang sama pada akhir kalimat baris satu dan tiga yakni “ng.” Demikian juga pada akhir kalimat baris dua dan empat memiliki rima yang sama yakni “i.” Berdasarkan jumlah barisnya, pantun terbagi menjadi karmina, pantun biasa dan talibun. Pantun karmina hanya terdiri dari dua baris. Pantun biasa terdiri dari empat baris. Sementara itu, talibun merupakan pantun dengan jumlah baris lebih dari empat tetapi jumlahnya genap. Ditinjau dari isinya, pantun juga terbagi menjadi pantun adat, pantun nasehat, pantun jenaka, pantun teka-teki, dan pantun percintaan.  Pantun umumnya tertuang di dalam berbagai kesenian, ritu...

Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah Gagal Didigitalisasi Ulang, Para Akademisi Kecewa

Gambar
Kondisi Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah Terkini Pamor Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah sebagai naskah berbahasa Melayu tertua di dunia telah mengundang minat para akademisi dan ilmuwan untuk menelitinya. Sebagaimana diketahui, kitab ini pertamakali ditemukan oleh Petrus Voorhoeve pada tahun 1941. Dan kemudian, naskah ini baru disadari dan diperkenalkan sebagai naskah Melayu tertua oleh Uli Kozok. Ia melakukan penelitian tersebut pada tahun 2002.  Gaung dan penelitian terhadap kitab ini sempat vakum hampir selama dua dasawarsa. Akan tetapi, beberapa tahun belakangan naskah ini kembali menarik perhatian. Hal ini mungkin seiring dengan program pemerintah untuk memajukan budaya bangsa. Beberapa naskah kuno dari Indonesia bahkan telah berstatus sebagai memory of the world. Untuk itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Perpustakaan Nasional RI berusaha untuk menyelidiki kembali tentang naskah ini.  Melalui Prof. Wardiman, pada tahun 2019 Perpusnas RI mengunjungi desa Tanju...

Naskah Incung dari Sungai Tutung Ini Berisi Kisah Nabi Adam

Gambar
Ruas Pertama Naskah Incung Ini Asan Pulung (TK 125/EAP117/44/1/6) Sumber: British Library Nabi Adam merupakan sosok nabi dan manusia pertama dalam kepercayaan agama Samawi seperti Yahudi, Nasrani, dan Islam. Kisahnya banyak diceritakan di dalam kitab suci baik di dalam al-Kitab maupun di dalam al-Qur'an. Di dalam kitab suci tersebut Adam diceritakan diciptakan dari tanah kemudian ditiupkan ruh sehingga menjadi manusia. Kisah Adam berlanjut dengan hadirnya sosok Hawa sebagai istri Adam, hingga diturunkan ke dunia dari surga akibat melanggar larangan Tuhan. Kisah Adam juga dimuat di dalam kitab-kitab ulama klasik, misalnya di dalam kitab Qishas al-Anbiya karangan Ibnu Katsir dan kitab Tarikh al-Rusul wa al-Muluk karangan at-Thabari. Di Nusantara turunan kisah Adam ditulis dalam naskah-naskah lokal misalnya di dalam Naskah Samud Ibnu Salam dan Naskah Ambiya Pegon. Umumnya, naskah berisi kisah Adam ditulis menggunakan turunan aksara Arab seperti aksara Pegon dan Arab-Melayu (Jawi). Hal...

Ketika Sultan Thaha Syaifuddin dari Jambi Mengirim Petisi Ke Turki Usmani

Gambar
Latar Belakang Sebelum Sultan Thaha diangkat menjadi Raja Jambi, Sultan sebelumnya termasuk ayah Sultan Thaha sendiri yang bernama Sultan Muhammad Fachruddin atau Sultan Kramat adalah sekutu dari pemerintah Kolonial Belanda. Seperti di dalam tulisan Locher-Scholten disebutkan bahwa Sultan Fachruddin sendiri pernah berperang melawan pasukan Belanda di perbatasan Jambi dengan wilayah Palembang. Akan tetapi, ia kalah dalam pertempuran sehingga ia harus menandatangani kontrak perdamaian dan kontrak politik dengan Belanda. Kontrak-kontrak tersebut sebenarnya menjadi negara Jambi bagian dari Hindia-Belanda, Sultan Jambi tidak punya hak lagi untuk menjalin persahabatan dengan megara lain tanpa persetujuan pihak Belanda. Begitu pula saat Sultan baru dilantik, wajib dengan persetujuan Belanda.  Paman Sultan Thaha yang menjabat setelah ayahnya mangkat juga menandatangani kontrak politik dengan Belanda saat ia menjabat. Saat itu, status Thaha naik dari pangeran biasa menjadi perdana menteri a...

Ketika Raja Minangkabau dan Pangeran Jambi Minta Bantuan Para Penguasa Kerinci

Gambar
"....Karena kami suruh berkelahi dengan orang Palembang sekarang mau lah turun Dipati Ampat lengkap dengan senjatanya. Jikalau tidak turun tanggallah setiya orang tua-tua Dipati Ampat ke bawah duli Yang Dipatuwan..." --Yang Dipatuan Paduka Seri Sultan Ahmad Syah-- Bagian Salinan Surat yang dikirim oleh Raja Alam Minangkabau kepada Penguasa Kerinci  Bicara tentang sejarah tidak melulu tentang silsilah nenekmoyang/leluhur. Akan tetapi, tentang peristiwa penting yang pernah terjadi di masa lalu dan peristiwa tersebut bisa dibuktikan dari tinggalan tertulis seperti prasasti,inskripsi dan naskah-naskah kuno.  Misalnya, peristiwa Mangalap Siddhayatra atau perjalanan suci yang dilakukan oleh Dapunta Hyang, raja Sriwijaya, dari Minanga ke Upang bersama 20000 orang tentara ditambah 1312 orang yang berjalan kaki. Sejarawan akan lebih fokus membahas peristiwa mencari Siddhayatra dari pada membahas tentang dari mana dan siapa orang tua dari Dapunta Hyang tersebut.  Kasus lain misalny...

K.H. Muhammad Burkan Saleh: Ulama Kerinci yang Masyhur dan Aktif Menulis

Gambar
Sejak abad ke-19 M, gairah kehidupan religius di kalangan orang Kerinci sebenarnya semakin meningkat. Apalagi di abad yang sama, kaum ulama sedang gencar-gencarnya mengobarkan  semangat untuk menentang kolonialisme Belanda yang telah menganggu banyak negara merdeka, termasuk Jambi. Beberapa bukti naskah  turut memperkuat dugaan itu. Pada pertengahan dan akhir abad ke-19, orang-orang Kerinci yang berangkat ke Mekkah semakin meningkat. Mereka tidak sekedar berhaji, tetapi juga mempelajari ilmu agama. Kontak dengan jamaah haji dari wilayah lain terutama dari Aceh telah mengobarkan semangat persatuan untuk menentang penjajahan Belanda di wilayah mereka.  Sekembalinya dari berhaji, mereka digelari sebagai ulama oleh orang-orang di daerah asalnya. Hal ini karena mereka memiliki pengetahuan agama yang lebih dari masyarakat awam. Sayangnya, riwayat jamaah haji Kerinci pada abad tersebut tidak banyak diketahui. Kitab-kitab hasil tulisan mereka belum banyak ditemukan dan belum dise...

Mengenang Petrus Voorhoeve, Penemu Awal Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah dan Penyusun Tambo Kerintji

Gambar
Dr. Petrus Voorhoeve di usia senjanya masih semangat meneliti naskah-naskah Nusantara Sekelumit Latar Belakangnya Petrus Voorhoeve lahir di sebuah kota kecil di Belanda, Vlissingen, pada 22 Desember 1899. Ayahnya adalah seorang pendeta terkemuka Gereja Protestan di wilayah itu. Sayangnya, tidak banyak catatan mengenai Piet atau Pieter --nama panggilannya-- ketika ia masih kecil. Setelah menamatkan pendidikan menengah atas di sekolah bahasa, pada 1918 Voorhoeve melanjutkan studinya di Universitas Leiden (University of Leiden). Ia mulanya mengambil program studi Teologi namun kemudian pindah haluan ke program studi  Bahasa Indonesia. Di Leiden, Voorhoeve menempuh pendidikan dengan sangat mulus. Ia menamatkan studi sarjananya di tahun 1921. Kemudian ia melanjutkan ke program magister dengan fokus penelitiannya pada orang Aceh dan Linguistik Umum dan tamat pada 1925. Ia meneruskan pendidikannya untuk program Ph.D dengan fokus studi Cerita Rakyat Batak dan menamatkannya pada 1927. Selam...

Menjawab Pertanyaan-Pertanyaan Mengenai Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah

Gambar
(Ilustrasi) Tulisan ini dibuat sebagai bahan diskusi dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sering diperdebatkan di media massa terhadap Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah (KUTT). Terkadang pula, banyak masyarakat yang menafsirkan keliru tentang kitab kuno ini. Baca juga:  Mau Diusulkan Ke UNESCO, Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah Seharusnya Tidak Dibawa ke Jakarta Mengapa Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah Disebut sebagai Naskah Melayu Tertua di Dunia? Naskah ini secara umum menggunakan Bahasa Melayu meskipun terdapat bahasa Sansekerta di bagian pembuka dan penutup. Bahan naskah terbuat dari daluang dan telah diuji usianya melalui penanggalan karbon. Hasilnya menunjukkan kitab ini dibuat sekitar abad ke-14M. Sampai saat ini belum ditemukan naskah lain yang ditulis menggunakan bahasa Melayu melebihi usia Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah. Sehingga kitab ini masih menduduki posisi pertama sebagai naskah berbahasa Melayu tertua di dunia. Apa nama asli dari Kitab Undang-Undang Tanj...