Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sosial

Mengenal Tutou Tabano, Sapaan dan Istilah Kekerabatan Menurut Adat Kerinci

Gambar
Ilustrasi (Foto Sakti Alam Watir) Pendahuluan Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas dari interaksi dengan sesamanya. Agar interaksi itu berlangsung dengan baik, diperlukan adanya komunikasi termasuk dalam hal menyapa orang lain. Di Indonesia, kata sapaan sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini karena masyarakat hidup dalam norma-norma dan tradisi yang masih berlaku hingga kini. Salah menyapa bisa berakibat fatal. Bayangkan saja bila kata sapaan yang seharusnya digunakan untuk perempuan digunakan untuk menyapa seorang laki-laki atau kata sapaan untuk yang lebih muda digunakan untuk menyapa orangtua. Bisa heboh dunia persilatan. Kita akan dicap sebagai orang yang tidak punya sopan santun.  Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud, kata sapaan adalah kata yang digunakan untuk menegur sapa orang yang diajak berbicara (orang kedua) atau menggantikan nama orang ketiga. Dalam Bahasa Indonesia, kata sapaan terbagi lagi dalam beberapa jenis yaitu nama...

Bagaimana Kepercayaan Orang Kerinci Masa Lalu Terhadap Roh dan Dunia Gaib?

Gambar
Komunikasi dengan dunia roh dalam kepercayaan lama Orang Kerinci. Dok. Kompasiana Tak henti-hentinya Tuwo Rio -- nama panggilan seorang balian dalam tradisi kuno Kerinci--menyenandungkan mantra dihadapan sesajian dengan asap kemenyan yang mengepul. Lama kelamaan, senandung mantra itu semakin lirih, tampak benar sang Balian tengah diambang kesadarannya. Namun, tiba-tiba sekujur tubuhnya bergetar hebat, ia roboh dan tubuhnya mengejang. Segera ia ditutupi dengan kain panjang oleh anaknya. Kini Balian Rio sudah berada di alam lain, dunia ketidaksadaran, tempat "arwah" manusia berkumpul. Dalam ketidaksadarannya itu, Rio sesekali terdengar masih menyenandungkan mantra, orang-orang di sekitarnya pun dapat mendengarkan bagaimana ia berkomunikasi dengan roh-roh manusia yang telah wafat termasuk dengan roh para leluhur. Baca Juga:  Dari manakah Asal Usul Penduduk Dusun Siulak Mukai? Menelusuri Sejarah dan Struktur Pemerintah Adat Masyarakat Siulak Mukai Sesungguhnya kata "roh...

Masyarakat Adat dalam Bingkai Keberagaman Bangsa dan Upaya Pengakuan atas Hak Mereka: Sebuah Harapan bila Menjadi Seorang Pemimpin

Gambar
  Potret Orang Rimba (Suku Anak Dalam) dengan hasil hutan yang menghidupi mereka (sumber: tropis.co) Sebuah Prakata Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terbentuk dari beragam etnis. Etnis-etnis ini mendiami rangkaian kepulauan nan subur bak zamrud khatulistiwa, yang membentang dari ujung pulau Sumatra hingga ujung Papua. Kesadaran akan keberagaman inilah yang kemudian menjadi landasan bagi para pendiri bangsa   untuk mengambil frasa “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai semboyan bagi negara Indonesia.   Semboyan tersebut dikutip dari sebuah kitab kuno bernama Sutasoma karangan Mpu Prapanca dari abad ke-14 M. Frasa ini mengandung arti yang sangat dalam ”berbeda-beda namun tetap satu” . Sebuah frasa yang melambangkan kesatuan dalam bingkai keberagaman bangsa Indonesia. Di tengah laju perubahan zaman,   banyak di antara etnis ini yang masih hidup dengan budaya dan ciri tradisional mereka. Mereka hidup di tanah ulayat yang diwarisi dari leluhur secara turun temurun. Mereka ...

Marak Pencurian Kulit Manis di Kerinci, Inilah Solusi Pencegahannya!

Gambar
Kayu manis yang baru dicuri orang (ilustrasi) Kayu Manis (Cinnamomum) atau Kulit Manis atau Cassiavera merupakan salah satu tanaman rempah yang diminati sejak dulu kala. Kayu ini menghasilkan kulit yang berorama harum, pedas dan manis. Kayu manis dianggap sebagai tanaman rempah yang pertama kali dimanfaatkan oleh manusia. Bangsa Mesir Kuno telah memanfaatkan kayu manis untuk keperluan bumbu makanan dan pembalseman mayat, bahkan tanaman ini disebut-sebut di dalam Kitab Injil. Kayu manis tidak bisa tumbuh di sembarang tempat. Hanya beberapa kawasan di dunia yang menghasilkan tanaman ini seperti Srilanka, Vietnam, Kawasan China bagian Selatan dan Indonesia. Pusat perkebunan Kayu Manis di Indonesia terletak di pedalaman Kerinci, Jambi. Sekitar 90 persen kayu Manis Indonesia berasal dari kawasan ini. Kerinci memiliki kayu manis dengan spesies sendiri yang disebut sebagai cinnamomum burmanii atau Korintje atau Indonesian cinnamon. Diduga, tanaman kayu manis Kerinci awalnya tumbuh liar di hut...

Dari Baselang Hingga Berinduk Semang: Melihat Konsep Perburuhan dalam Masyarakat Kerinci

Gambar
Ilustrasi para pekerja lahan persawahan di Kerinci Hari ini Pentjari Djedjak melihat berita mengenai demo besar-besaran di TV yang berakhir ricuh, di antaranya ada mahasiswa yang luka-luka. Sungguh kasihan! Demo itu tak lain dan tak bukan untuk menentang UU Cipta Kerja yang baru saja diketok palunya.  Masalah perburuhan memang sangat sensitif di masa sekarang, hal ini karena bersangkut paut dengan masalah ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai buruh. Buruh adalah orang yang bekerja untuk orang lain demi mendapat upah.  Tentu saja, profesi buruh ini bukanlah hal baru di telinga kita. Sejak masa dahulu, manusia telah mengenal adanya perburuhan, bekerja untuk mendapatkan upah. Konsep perburuhan juga dikenal dalam kehidupan orang Kerinci, meski dengan istilah yang berbeda.  Akan tetapi, kalau ditilik sejarahnya sangat mungkin perburuhan baru dipraktikkan secara meluas sekitar abad ke-19. Jauh sebelum itu, perburuhan tidak dipraktikkan. Asu...

Tanah Ulayat di Kerinci: Praktek Jual Beli Tanah Di Luar Orang Kerinci Seharusnya Dilarang!

Gambar
Ilustrasi Tanah dan Lahan dalam Hukum Adat di Kerinci Sebelum kita membahas alasan mengapa tanah yang ada di Bumi Kerinci tidak boleh dijual kepada orang asing atau orang di luar suku Kerinci. Ada baiknya kita pahami dulu bagaimana kedudukan tanah di dalam hukum adat Kerinci. Penguasaan tanah di Kerinci tidak lepas dari sejarah nenek moyang dari tiap kelbu atau luhah yang bermukim di seluruh bumi Kerinci sejak ratusan tahun yang lalu. Ketika nenek moyang tiap kelbu hijrah atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mereka mulai menandai lahan yang diakui di bawah penguasaan mereka. Mereka menandai lahan-lahan tersebut dengan pohon besar, gunung, bukit pematang, sungai, tugu batu, lubuk. muara sungai, nama permukiman dan lain sebagainya. Nenek moyang tiap-tiap kelbu ini membuat perjanjian untuk tidak menganggu batas-batas tanah satu sama lain, dengan memotong kerbau dan membuat persumpahan yang berlaku hingga ke anak cucu mereka. Dengan demikian, nenek moyang kelbu di masa lalu te...