Pemerintahan Adat Wilayah adat ini berada di sepanjang aliran Sungai Bungkal Pandan yang berhulu di atas perbukitan Dusun Pondok Tinggi dan bermuara di Sungai Batang Merao. Di sepanjang Sungai Bungkal Pandan, terdapat permukiman adat yang terdiri dari lima dusun utama yaitu Dusun Pondok Tinggi, Dusun Sungai Penuh, Dusun Baru, Dusun Empih dan Dusun Bernik. Pada masa selanjutnya, kelima dusun ini membentuk persekutuan adat yang dinamakan sebagai Mendapo Limo Dusun. Saat ini, Mendapo Limo Dusun telah berkembang menjadi tiga kecamatan yaitu Kecamatan Sungai Penuh, Kecamatan Pondok Tinggi dan Kecamatan Sungai Bungkal di Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi. Salah satu dusun di Mendapo Limo Dusun (Sungai Penuh) Baca juga: Menelusuri Nenek Moyang Orang Semurup berdasarkan Tembo Incung Secara adat, wilayah sahulu sahiliran Bungkal Pandan ini dipimpin oleh Tujuh orang Depati, Dua Orang Pemangku dibantu seorang Ngebi dan Sepuluh orang Permenti. Hal ini sebagaimana tertuang dalam pepatah adat: ...
Arsitektur tradisional Kerinci Rumah Kerinci Klasik Rumah Tradisional Kerinci biasanya dibuat berjejer sehingga membentuk barisan yang rapi,dalam bahasa Kerinci disebut Larik atau Lahik.Ciri Khas Rumah Tradisional Kerinci adalah atap yang terbuat dari potongan kayu tipis persegi panjang atau terbuat dari Belahan Buluh ( Bambu) yang disusun sedemikian rupa. hal ini masih dijumpai pada tahun 1920 an. setelah pendudukan Belanda Atap Kayu kemudian ditukar dengan atap yang terbuat dari seng. Ciri Khas lain terdapat pada jendela (Singap/ Singem / Singop dan lain sebagainya), jendela rumah biasanya dibuat memanjang yang terletak diantara dua tiang rumah bagian depan. Satu Larik biasanya di huni oleh sebuah keluarga yang masih berkerabat dekat(satu leluhur) biasanya disebt dengan Kelebu. di wilayah Kerinci hulu dan tengah, setiap rumah dalam larik biasanya dibangun saling menempel, bahkan ada pintu bagian dalam rumah yang menghubungkan rumah satu dengan rumah lainnya. Pntu tersebut di...
Penobatan Depati dan Ninek Mamak dalam Luhah Depati Singado Siulak Mukai Tengah Siulak Sebelum Menjadi Tanah Sekudung Menurut legenda, sebelum dikenal sebagai Siulak, wilayah ini bernama Renah Punti Alo ketika dihuni oleh leluhur bernama Sutan Kalimbuk. Setelah itu, ketika kedatangan ninek Mangkudum Semat wilayah ini dinamakan sebagai Rantau Kabun-Kabun. Selanjutnya ketika Pangeran Temenggung Kabul di Bukit pertamakali tiba di Kerinci, Siulak dinamakan sebagai Talang Jauh, karena wilayah yang terletak paling jauh dari pandangannya ketika sampai di Tanjung Kerbau Jatuh. Setelah itu, ketika kedatangan rombongan leluhur yang disebut Temenggung Tigo Saudaro, Siulak dinamakan sebagai Dusun Padang Jambu Alo. Penamaan Sulak terjadi saat berdirinya federasi adat yang dikepalai persekutuan delapan depati yang disebut Salapan Helai Kain. Siulak dan Semurup saat itu berada dalam satu wilayah adat yang disebut sebagai Tanah Kepala Persembah yang dikepalai oleh Depati Retno Intan Kepalo Sembah...
Hj. Rohana, ibu Bupati Kerinci saat ini Keturunan Ulama Tarikat Beliau dilahirkan dengan nama Rohana sekitar tahun 1938-39 di Dusun Koto Beringin, Siulak, Kerinci. Ayahnya bernama H. Ja'far Saleh dari Jurai Demong Dusun Koto Rendah dan ibunya bernama Jangkiriyah dari Luhah Jagung Marajo Indah Sungai Langit Dipati Marajo, dusun Koto Beringin. Baca juga: Kenduri Sko Empat Jurai Dusun Koto Rendah, Siulak Kabupaten Kerinci Haji Ja'far Saleh, ayahnya, sebenarnya adalah seorang ulama. Lebih tepatnya seorang ulama Tarekat cabang Sammaniyah. Beliau punya banyak murid di wilayah Siulak. Ayah dari Haji Ja'far Saleh, atau kakek dari Rohana, juga seorang ulama Tarikat Sammaniyah yang masyhur di Siulak dan Semurup. Haji Ja'far Saleh beserta saudara laki-lakinya tahun 1950-an Nama asli sang kakek adalah Serangkak, tetapi setelah berhaji ke Mekkah nama beliau diganti menjadi Haji Sultan Saleh. Sang kakek mengaji agama di beberapa tempat terutama di Hiang dan di Semurup. Di Semurup b...
Kisah ini diceritakan di dalam prasasti tanduk simpanan Depati Sungai Laga, juga dalam salinannya pada kertas beraksara Arab Melayu. Alkisah tatkala Pangeran dari Jambi mengunjungi Kerinci, kemudian berhenti di pesanggrahannya di Tanjung Kerbau Jatuh, Sanggaran Agung. Kabar ini segera didengar oleh dua orang Depati yaitu Depati Mudo dan Depati Sungai Lago dari Tanah Rawang. Ilustrasi (Sumber: https://andezzsyailendra.wordpress.com) Dua depati ini segera menghadap sang pangeran dengan niat untuk meminta gelar bagi dua orang kemenakannya. Sesampainya di Tanjung Kerbau Jatuh, Depati Muda bercerita kepada pangeran meski sudah dilarang oleh rekannya yang bergelar Depati Sungai Laga. Depati Muda memberitakan bahwa ada seseorang yang mampu menanyai orang mati di dalam kubur, namanya Datuk Caya Dipati. Baca juga: Empat Prasasti Tanduk dari Mendapo Rawang Berhasil Dibaca Ulang, Ini Isinya! Seolah tak percaya, Pangeran Jambi kemudian meminta orang tersebut dihadapkan kepadanya. Maka, ...
Wilayah Kerinci kaya akan tinggalan naskah-naskah kuno. Salah satunya adalah naskah tanduk beraksara Incung. Sebagian peneliti menyebutkan tulisan di atas tanduk ini masuk dalam kategori naskah seperti yang digunakan oleh L.C. Westenenk dan Voorhoeve. Peneliti lain mengkategorikan sebagai prasasti karena ditulis di atas media yang keras seperti yang diungkapkan oleh Wahyu R. Andhifani ahli epigrafi dari Balai Arkeologi Sumatra Selatan. Prasasti Tanduk Depati Sungai Lago dari Mendapo Rawang Baca juga: Aksara Surat Incung, Riwayat dan Problematikanya Di antara prasasti tanduk beraksara Incung yang ditemukan di Kerinci adalah pusaka yang disimpan oleh Depati Sungai Lago Tuo dusun Koto Beringin, Mendapo Rawang. Sebelumnya, empat prasasti tanduk ini telah dialihaksarakan terlebih dahulu oleh Voorhoeve di tahun 1941. Namun karena masih terdapat kekurangan dan sulit dipahami oleh pembaca awam. Prasasti ini kembali dibaca oleh Sunliensyar pada tahun 2020. Berbeda dengan Voorhoeve, penelit...
Bahasa Kerinci (Dialek Hilir) Dalak dusak, ado uha ngan sangak lah miskan tingga dalak umah ngan samo nia dingan bentuk bbaho. Idak nyu sangak biaso, kalu ado nyu dimaka samu-samu. Kalu nyado nyu ditanggoa samu-samu. Barapo ahi inih, bapoknyu balek tenguh mala’ terauh karnu masuk imbo kalua imbo nalok manya. Batu Patah di Daerah Muak, Kerinci Lah takumpo galu-galu manya, mule lah bapoknyu ngehat manya ituh. Ado ngan nek patoh, ado ngan gde, ado ngan panja’, meca lah bentuk. Mulelah bapoknyu ngarangki manya ngan sudeh dikehak ituh jadi lukah. Sengajo nia bapoknyu ngumpo ke manya untuk mna lukah mboh nyu bise nangkak laok dkek aye. Kiru incak lukoh ngan pertamo bapoknyu nyubu muat ituh. Idek ugo bapoknyu ntai muat, terauh-terauh bae bapoknyu nyubu. Ketu ngaat ku bbalek manya-manya ituh, tadengelah suaru anuknyu ngan paling tuo ituh agi betale. Nyu ngasih ku adik nyu tido. “Tido, tido lah kaau A dik, B apok muat lukoh incak” “Tido, tido lah kaau A dik, B apok muat lukoh incak” “Oo A dik ...
Jihat Ninek Depati Intan Kemalo Seri, Siulak Mukai (@budayakerinci) Dusun Siulak Mukai Dusun Siulak Mukai adalah perkampungan yang terletak di bagian hulu atau barat laut lembah Kerinci. Dusun ini berada di sisi utara pertemuan Sungai Batang Merao dan Sungai Ayir Mukai. Dilihat dari citra satelit, dusun ini berada di antara dua aliran sungai tersebut, Sungai Batang Merao di sisi Barat dusun dan Sungai Ayir Mukai di sisi Timur. Sekarang ini, Dusun Siulak Mukai telah berkembang menjadi sebuah kecamatan yang bernama Siulak Mukai, Kerinci. Secara adat, dusun Siulak Mukai dihuni oleh kelompok masyarakat adat yang terdiri dari Tigo Luhah, Empat Bungkan dan Enam Kelbu . Kelompok masyarakat yang pertama dinamakan sebagai Luhah Depati Intan. Luhah Depati Intan terbagi pula menjadi dua kelompok yaitu Bungkan Rajo Indah/Jindah dan Bungkan Rajo Pangulu. Dua bungkan terbagi lagi menjadi empat kelebu yaitu Kelebu Anak Jantan, Kelebu Anak Batino Tuo, Kelebu Anak Batino Dalam dan Kelebu Ko...
Oleh Hafiful Hadi S Bahwa dalam Artikel "Membongkar Adat Lama Pusaka Usang-58" (Sumber : http://auliatasman.unja.ac.id/web/index.php/artikel/35-tasman-a#addcomments ), Penulis Artikel tersebut menyajikan terjemahan dari Naskah Incung pada Tanduk Kerbau dari Luhah Datuk Singarapi Putih Sungai Penuh . Naskah ini telah diteliti oleh (1) L.C. Westenenk (1922) (2). Dr. P. Voorhoeve (1941); (3). Prof. Mohd. Yamin, SH (1953); dan (4). C.W Watson (1969-1970). Naskah ini ditulis di atas dua potong tanduk kerbau, menggunakan Tulisan Rencong Kerinci Kuno, bahasa yang dipakai adalah Melayu Kerinci. Berikut Bunyi Terjemahan Naskah Tanduk tersebut yang ditulis oleh penulis Artikel "Membongkar Adat Lama Pusaka Usang- 58" : NASKAH I (Tulisan Incong Kerinci) : 1. Assalamualaikum ya Tuanku. Beri selamat anak cucu Tuan mengatur tutur. 2. tambo nenek moyang Datuk takkala ...
Komentar