"....Karena kami suruh berkelahi dengan orang Palembang sekarang mau lah turun Dipati Ampat lengkap dengan senjatanya. Jikalau tidak turun tanggallah setiya orang tua-tua Dipati Ampat ke bawah duli Yang Dipatuwan..." --Yang Dipatuan Paduka Seri Sultan Ahmad Syah-- Bagian Salinan Surat yang dikirim oleh Raja Alam Minangkabau kepada Penguasa Kerinci Bicara tentang sejarah tidak melulu tentang silsilah nenekmoyang/leluhur. Akan tetapi, tentang peristiwa penting yang pernah terjadi di masa lalu dan peristiwa tersebut bisa dibuktikan dari tinggalan tertulis seperti prasasti,inskripsi dan naskah-naskah kuno. Misalnya, peristiwa Mangalap Siddhayatra atau perjalanan suci yang dilakukan oleh Dapunta Hyang, raja Sriwijaya, dari Minanga ke Upang bersama 20000 orang tentara ditambah 1312 orang yang berjalan kaki. Sejarawan akan lebih fokus membahas peristiwa mencari Siddhayatra dari pada membahas tentang dari mana dan siapa orang tua dari Dapunta Hyang tersebut. Kasus lain misalny...
Pemerintahan Adat Wilayah adat ini berada di sepanjang aliran Sungai Bungkal Pandan yang berhulu di atas perbukitan Dusun Pondok Tinggi dan bermuara di Sungai Batang Merao. Di sepanjang Sungai Bungkal Pandan, terdapat permukiman adat yang terdiri dari lima dusun utama yaitu Dusun Pondok Tinggi, Dusun Sungai Penuh, Dusun Baru, Dusun Empih dan Dusun Bernik. Pada masa selanjutnya, kelima dusun ini membentuk persekutuan adat yang dinamakan sebagai Mendapo Limo Dusun. Saat ini, Mendapo Limo Dusun telah berkembang menjadi tiga kecamatan yaitu Kecamatan Sungai Penuh, Kecamatan Pondok Tinggi dan Kecamatan Sungai Bungkal di Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi. Salah satu dusun di Mendapo Limo Dusun (Sungai Penuh) Baca juga: Menelusuri Nenek Moyang Orang Semurup berdasarkan Tembo Incung Secara adat, wilayah sahulu sahiliran Bungkal Pandan ini dipimpin oleh Tujuh orang Depati, Dua Orang Pemangku dibantu seorang Ngebi dan Sepuluh orang Permenti. Hal ini sebagaimana tertuang dalam pepatah adat: ...
(Gambar 1) Salinan Surat Sultan Inderapura yang dimuat di dalam buku van Aken Polemik status wilayah adat Depati Rencong Telang di Pulau Sangkar sebagai ujung Tanah Pagaruyung belum juga usai. Baru-baru ini pula sebuah lembaga independen mengadakan temu muka dengan Depati Empat sebagai "kembar rekan", teman sejawat Depati Rencong Telang dalam kelembagaan adat di Kerinci. Intinya mereka juga menolak istilah yang demikian. Namun, saat ini belum ada tindak lanjut dari hasil temu muka tersebut. Akan tetapi masalah krusial yang sebenarnya terjadi di Kerinci adalah narasi sejarah yang dipercayai oleh orang Kerinci bersumber pada narasi yang tidak kredibel. Mereka mengacu pada "tafsiran" orang yang tidak memahami metodologi sejarah. Bahkan dari sumber-sumber yang abu-abu sekalipun. Mohon maaf, beberapa buku sejarah yang ditulis dibuat oleh ahli ekonomi! Bukan dari mereka yang berkecimpung dalam rumpun kajian kebudayaan entah itu sejarah, filologi, antropologi maupun arke...
Jihat Ninek Depati Intan Kemalo Seri, Siulak Mukai (@budayakerinci) Dusun Siulak Mukai Dusun Siulak Mukai adalah perkampungan yang terletak di bagian hulu atau barat laut lembah Kerinci. Dusun ini berada di sisi utara pertemuan Sungai Batang Merao dan Sungai Ayir Mukai. Dilihat dari citra satelit, dusun ini berada di antara dua aliran sungai tersebut, Sungai Batang Merao di sisi Barat dusun dan Sungai Ayir Mukai di sisi Timur. Sekarang ini, Dusun Siulak Mukai telah berkembang menjadi sebuah kecamatan yang bernama Siulak Mukai, Kerinci. Secara adat, dusun Siulak Mukai dihuni oleh kelompok masyarakat adat yang terdiri dari Tigo Luhah, Empat Bungkan dan Enam Kelbu . Kelompok masyarakat yang pertama dinamakan sebagai Luhah Depati Intan. Luhah Depati Intan terbagi pula menjadi dua kelompok yaitu Bungkan Rajo Indah/Jindah dan Bungkan Rajo Pangulu. Dua bungkan terbagi lagi menjadi empat kelebu yaitu Kelebu Anak Jantan, Kelebu Anak Batino Tuo, Kelebu Anak Batino Dalam dan Kelebu Ko...
Penobatan Depati dan Ninek Mamak dalam Luhah Depati Singado Siulak Mukai Tengah Siulak Sebelum Menjadi Tanah Sekudung Menurut legenda, sebelum dikenal sebagai Siulak, wilayah ini bernama Renah Punti Alo ketika dihuni oleh leluhur bernama Sutan Kalimbuk. Setelah itu, ketika kedatangan ninek Mangkudum Semat wilayah ini dinamakan sebagai Rantau Kabun-Kabun. Selanjutnya ketika Pangeran Temenggung Kabul di Bukit pertamakali tiba di Kerinci, Siulak dinamakan sebagai Talang Jauh, karena wilayah yang terletak paling jauh dari pandangannya ketika sampai di Tanjung Kerbau Jatuh. Setelah itu, ketika kedatangan rombongan leluhur yang disebut Temenggung Tigo Saudaro, Siulak dinamakan sebagai Dusun Padang Jambu Alo. Penamaan Sulak terjadi saat berdirinya federasi adat yang dikepalai persekutuan delapan depati yang disebut Salapan Helai Kain. Siulak dan Semurup saat itu berada dalam satu wilayah adat yang disebut sebagai Tanah Kepala Persembah yang dikepalai oleh Depati Retno Intan Kepalo Sembah...
Sejarah Dusun Koto rendah Siulak berlokasi sekitar 15 Km dari Kota Sungai Penuh. Sejarah terbentuknya Dusun Koto Rendah diperkirakan dimulai dari Abad 17 M. Walaupun demikian perbukitan disekitar desa Koto Rendah sudah lebih dulu dihuni oleh masyarakat megalitik, sebab ditemukan beberapa pecahan-pecahan gerabah serta susunan bebatuan besar di daerah sana. Koto Rendah berasal dari kata Koto Merendah. Sebab menurut Tambo Adat Tigo Luhah Tanah Sekudung, sebelum Depati Mangku Bumi batedo menghadap Raja Jambi di Muara Masumai beliau mengadakan tarak (bertapa) di wilayah Air Manimbak berbatasan dengan Solok Selatan sekarang. Di sana beliau mendapatkan seekor siamang berkulit putih. Ketika beliau pulang ke Siulak Panjang, siamang tersebut mengikuti beliau dari atas pohon.Saat beliau berhenti di sebuah kawasan utara Siulak Panjang, siamang tersebut turun dari pohon atau disebut merendah. Lokasi tempat turunnya siamang putih tersebut sampai sekarang dinamakan sebagai Kot...
Jihat Depati Rajo Simpan Bumi, Padang Jambu Alo, Siulak Gedang (Sumber: Zarmoni) Dusun Siulak Gedang Dusun Siulak Gedang adalah perkampungan yang terletak di sebelah hulu lembah Kerinci, tepatnya di sisi barat aliran Sungai Batang Merao yang membelah lembah. Dusun ini berada di sebelah utara muara sungai yaitu pertemuan antara Sungai Ayir Lingkat atau Sungai Nyuruk dengan Batang Merao. Saat ini Dusun Siulak Gedang terbagi menjadi enam desa yaitu Desa Siulak Gedang, Desa Pasar Siulak Gedang, Desa Telago Biru, Dusun Dalam, Bandar Sedap dan Koto Tengah. Desa-desa ini berada di dalam kecamatan Siulak, Kerinci. Secara adat Dusun Siulak Gedang terdiri dari kelompok masyarakat adat yang tersusun atas tigo luhah dan perbakalo bungkan yang empat. Tigo Luhah tersebut adalah Luhah Temenggung, Luhah Sirajo dan Luhah Jagung. Luhah Temenggung terbagi dalam dua bungkan yaitu Bungkan Temenggung Belah Mudik yang terdiri dari satu kelebu yaitu Kelbu Gedang atau Kelbu Temenggung...
Gambar 1. Haji Idris bin Haji Soetan Imam(bersurban di tengah) salah satu anak dari Haji Soetan Imam berfoto di depan Masjid Raya Siulak pada Tahun 1960-an Pada tahun 1901 M, Terjadi pembunuhan terhadap 14 orang utusan yang dipimpin oleh Imam Marusa di dusun Lolo Gedang, utusan tersebut bertujuan berunding dengan Para Depati agar menerima tawaran Belanda yang hendak membangun loji dagang di Kerinci. Utusan tersebut dikirim oleh Sultan Dayat dari Muko-muko atas perintah controleur Indrapura Manupassa dan Resident Bengkulu. (Eman Canser, kerajaanairpura.blogspot.com). Pada Tahun 1902 M, Regent Indrapura Sultan Rusli sekaligus menjabat Sultan Indrapura mengutus rombongan yang dipimpin oleh Sultan Iradat guna berunding dengan Depati IV dan VIII Helai Kain serta memberitahu agar rakyat Kerinci bersiap-siap menghadapi Belanda yang berniat hendak menaklukan Alam Kerinci. Sultan Iradat menyarankan agar rakyat kKerinci menerima kedatangan Belanda dengan damai, namun men...
Oleh Hafiful Hadi S Bahwa dalam Artikel "Membongkar Adat Lama Pusaka Usang-58" (Sumber : http://auliatasman.unja.ac.id/web/index.php/artikel/35-tasman-a#addcomments ), Penulis Artikel tersebut menyajikan terjemahan dari Naskah Incung pada Tanduk Kerbau dari Luhah Datuk Singarapi Putih Sungai Penuh . Naskah ini telah diteliti oleh (1) L.C. Westenenk (1922) (2). Dr. P. Voorhoeve (1941); (3). Prof. Mohd. Yamin, SH (1953); dan (4). C.W Watson (1969-1970). Naskah ini ditulis di atas dua potong tanduk kerbau, menggunakan Tulisan Rencong Kerinci Kuno, bahasa yang dipakai adalah Melayu Kerinci. Berikut Bunyi Terjemahan Naskah Tanduk tersebut yang ditulis oleh penulis Artikel "Membongkar Adat Lama Pusaka Usang- 58" : NASKAH I (Tulisan Incong Kerinci) : 1. Assalamualaikum ya Tuanku. Beri selamat anak cucu Tuan mengatur tutur. 2. tambo nenek moyang Datuk takkala ...
Komentar